Sabtu, 12 Juli 2008

Betapa " Sheila on 7"

Seminggu setelah kau pergi
teman silih berganti
menghiburku

berkata semua teratasi
dan terus sembunyi
di balik senyum palsu
ku dengar dirimu
tak sendiri lagi

betapa hancurnya
hati dan jiwaku
*)
setahun setelah kau pergi
ku masih sembunyi
di balik senyum palsu
ku dengar dirimu
tak sendiri lagi

haaaaa……
betapa hancurnya
haaaaa …..
hati dan jiwaku

na na naaa aahh

setahun setelah kau pergi
ku masih sembunyi
di balik senyum palsu
ku dengar dirimu
tak sendiri lagi

haaaaa……
betapa hancurnya
haaaaa …..
hati dan jiwaku
betapa hancurnya

tolong bantu aku
melewati semua

Selengkapnya...

Kamis, 10 Juli 2008

Orang tua Siswa Protes Pengumuman PSB

Sejumlah orangtua calon siswa di Solo, Jawa Tengah, tak bisa membendung kemarahan saat mendatangi kantor Dinas Pendidikan setempat, Kamis (10/7). Ini karena pengumuman penerimaan siswa baru sekolah menengah pertama dan atas di wilayah tersebut yang sedianya diumumkan hari ini ditunda lagi dengan alasan kendala teknis

Sejumlah orangtua calon siswa juga memprotes pengumuman ulang sebagai pengganti pengumuman penerimaan sehari sebelumnya di sejumlah sekolah. Pengumuman penerimaan sebelumnya terpaksa diganti lagi karena dianggap belum tuntas menyusul belum masuknya semua data dari seluruh sekolah.

Dinas Pendidikan sebelumnya menjanjikan pengumuman ulang tidak akan mengubah pengumuman awal. Tapi, kenyataannya puluhan siswa yang sebelumnya sudah diterima dibatalkan.

Karena baru pertama kali menggunakan sistem online, pengumuman penerimaan siswa baru SMP dan SMA di Solo banyak menemui kendala. Terutama terkait peralatan dan sumber daya manusia di kantor Disdikpora. Akibatnya, pengumunan penerimaan siswa di Solo tidak bisa serempak sehingga merugikan orangtua dan calon siswa.


SUMBER:

Liputan6.com


Selengkapnya...

Maraknya Kerusuhan pilkada

Akhir-akhir ini marak sekali kerusuhan yang berlatar belakang Pilkada, beginikah moral sebagian dari bangsa kita sekarang yang dulu terkenal ramah???, apa sebenarnya yang dicari para pelaku? apakah ada ketidakpuasan dari masa pendukung atau ketidakpuasan dari calon-calon pemimpin daerah yang kalah tersebut tersebut.

Di satu sisi ada yang mengatakan tentang kerusuhan yang banyak terjadi di banyak pilkada sebetulnya bisa dipandang sebagai proses belajar. Publik perlu melihat dan mengalami sendiri bahwa hasil dari aksi-aksi destruktif seperti itu sebenarnya tidak produktif dan hanya merugikan diri sendiri dalam jangka panjang maupun pendek. dan kalaupun calon yang mereka dukung sampai mati-matian itu jadi memimpin daerah tersebut, belum tentu calon tersebut akan ingat pada pendukung-pendukung yang rela mati-matian tersebut.

Apa perlu sistem pemihan pilkada secara langsung diganti dengan pemilihan pilkada yang seperti dulu, yang ditunjuk langsung oleh pemerintah atau diplih oleh wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR. Toh banyak juga pemimpin-pemimpin daerah yang diplih secara langsung oleh rakyat tetap saja melakukan korupsi.

Menurut hemat saya, kalau memang pilkada secara langsung merupakan pilhan terbaik dalam alam demokrasi sekarang, maka jadikanlah ajang pilkada secara langsung ini sebagai sarana untuk bisa memilih pemimpin-pemimpin kita yang yang bertanggung jawab, dengan cara yang santun, yang selama ini sudah melekat pada citra bangsa kita ini.

wallahu a'lam
Selengkapnya...

Jumat, 04 Juli 2008

Peterpan Terbaik terindah

Peterpan - Terbaik dan Terindah

dimana tempatku
disitu mauku
biarkan ku mampu berjalan sendiri
tanpa kau coba menuntunku

bridge:
kau tahu jalanku
engkau memilihku
untukmu berbagi dari hati untuk jiwa

Reff:
jika ku harus memilih
ku tunjuk satu yang terbaik yang terindah
jika kau mau memberi
berikan aku yang terbaik

waktu kan menunggu
menanti diriku
biarkan ku mampu berjalan sendiri
tanpa kau coba menuntunku

Repeat bridge

Selengkapnya...

Pemanasan Global

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Selengkapnya...